Showing posts with label ROMANCE. Show all posts
Showing posts with label ROMANCE. Show all posts

Thursday, November 24, 2011

REVIEW: THE TWILIGHT SAGA: BREAKING DAWN - PART 1


































Edward Cullen: I'll see you at the alter.
Bella Swan: I'll be the one in white.

Bergembiralah para penggemar Twilight! Akhirnya Breaking Dawn - Part 1 rilis juga. Bagi para Twi-Hards (sebutan untuk penggemar berat Twilight) film ini tentu saja sudah sangat dinantikan. Apalagi didalamnya akan ada pernikahan antara Edward Cullen dan Bella Swan (finally!). Setelah kisah cinta yang berbelit-belit dan 'unyu-unyu' akhirnya si vampir pucat berglitter berhasil membawa sang pujaan hati ke pelaminan. Lucu memang (atau romantis?) melihat vampir menikah dengan manusia biasa, apalagi setelah perjuangan panjang selama 3 film! Seperti review-review film Twilight yang sudah pernah ada di blog ini, saya selalu mengatakan kalau saya sangat menyukai novelnya, menurut saya cerita karangan Stephenie Meyer itu sangat bagus dan seru sekali untuk dibaca. Namun visualisasi yang diangkat dari novel ke layar lebar sangat lah menggelikan, atau bisa dibilang tidak sesuai dengan ekspektasi saya yang adalah penggemar novelnya. Well, untuk Breaking Dawn - Part 1 ini sebetulnya saya tidak mengatakan kalau film ini sangat-amat-buruk-sekali, hanya saja kalau anda bukan fans Twilight lebih baik lewatkan saja film ini daripada nanti anda mual-mual.

Setelah melewati berbagai rintangan; mulai dari perang dengan sesama vampir, serigala, sampai konflik cinta segitiga yang super 'dirumitkan' itu, akhirnya Edward Cullen (Robert Pattinson) berhasil membawa sang pujaan hati Bella Swan (Kristen Stewart) ke pelaminan. Di usia yang baru 18 tahun ini akhirnya Bella telah mengambil keputusan mantap untuk menikah dengan vampir yang sangat dicintainya itu. Mereka pun berbulan madu ke sebuah pulau private yang romantis. Hubungan yang selama ini hanya 'kissing-only' pun tentu saja berkembang ke langkah selanjutnya. Baru sebentar, tiba-tiba Bella dinyatakan hamil. Mereka pun kembali ke rumah keluarga Cullen. Kehamilan Bella prosesnya sangatlah cepat, janin yang dikandungnya bukanlah janin biasa melainkan campuran antara manusia dan vampir. Dikarenakan proses pertumbuhan janin yang sangat cepat itu, kesehatan Bella pun menurun drastis. Tubuh Bella sepertinya tidak akan kuat dan hal ini tentu saja sangat membahayakan nyawanya.

Edward yang tidak mau kehilangan Bella pun menyarankan agar janin tersebut digugurkan saja, namun Bella bersikeras ingin mempertahakan janin tersebut. Bujukan dari Jacob (Taylor Lautner) untuk menggugurkan bayi itu pun tak digubrisnya. Kabar tentang bayi setengah vampir yang sedang dikandung Bella ini pun terdengar juga oleh kawanan serigala. Para serigala ini menganggap kalau bayi tersebut nantinya akan membahayakan sehingga mereka berencana untuk memusnahkan bayi yang sedang dikandung Bella itu. Keluarga Cullen pun tidak tinggal diam, dibantu oleh Jacob mereka berusaha sekuat tenaga agar para kawanan serigala itu tidak dapat menyentuh Bella sama sekali. Masalah pun bukan hanya sampai disitu. Permasalahan utamanya adalah apakah Bella bisa bertahan sampai melahirkan bayi tersebut? Kalau sampai Bella meninggal sebelum bayi tersebut lahir maka Edward pun tidak berkesempatan untuk mengubah Bella menjadi vampir. Artinya, ia harus merelakan Bella meninggal dunia.

Sebetulnya menurut saya agak konyol Breaking Dawn dibagi menjadi Part 1 dan Part 2. Karena hampir setengah film di Part 1 ini hanya menyajikan adegan mesra Edward dan Bella saja. Saya sampai merasa sedang menonton film panas Robert Pattinson dan Kristen Stewart. lol. Film ini pun terasa lambat dan hanya berputar-putar disitu saja. Memang sih maksudnya supaya chemistry antara Edward dan Bella terasa intens, namun menurut saya jadinya agak sedikit berlebihan. Dari segi akting menurut saya Kristen dan Taylor menunjukkan kemajuan yang lumayan signifikan. Kalau Robert yaa..begitu-begitu saja lah. Mungkin para Twi-Hards akan tetap terhibur melihat idola mereka 'gelendotan' dari awal sampai pertengahan film, bahkan mungkin sedikit-sedikit akan keluar kata-kata ‘ugh..so sweet’. Yap, because they love it! Makanya saran saya, kalau anda bukan Twi-Hards jangan sampai geli sendiri menyaksikan film ini. Two tumbs up untuk make-up dan spesial efek Bella pada saat mengandung, wajahnya terlihat tirus dan lesu sekali, very convising! Beberapa hal yang saya nikmati dari film ini: design altar pernikahan di awal film sangat indah sekali dengan juntaian bunga putih yang terasa romantis, gaun pernikahan yang dipakai Bella bagian belakangnya super keren, dan entah bagaimana caranya Taylor Lautner terlihat sedikit lebih ganteng di film ini. Ohh well..itu saja. :p





Friday, October 28, 2011

REVIEW: MIDNIGHT IN PARIS




































"Nostalgia is denial - denial of the painful present."

Siapa yang tidak suka dengan kota Paris? Siapa juga yang tidak suka berfantasi? Kalau suka dengan keduanya, berarti Midnight in Paris adalah tontonan yang pasti akan menghibur anda. Saya bisa dibilang lumayan nge-fans dengan Woody Allen, meskipun tidak semua filmnya bagus dan sukses di pasaran. Tapi ada benang merah dari setiap film-film Woody yang sangat saya sukai, dialog-dialog 'pintar' khas Woody Allen lah yang selalu saya nantikan. Tiga besar film Woody yang paling saya suka adalah Annie Hall (1977), Match Point (2005), dan Vicky Cristina Barcelona (2009). Setelah menonton film terbarunya Midnight in Paris, list tiga besar tersebut pastinya akan bergeser, karena saya suka sekali dengan film ini! Saya suka dengan ide nostalgia yang diangkat Woody, belum lagi saya yang memang sangat jatuh cinta dengan kota Paris yang katanya paling romantis ini langsung terhipnotis sepanjang film oleh setting-an kota Paris yang berusaha ditonjolkan Woody. Film ini juga terasa sedikit berbeda dari film-film Woody Allen sebelumnya, but in a good way though. Buktinya Midnight in Paris sukses menjadi tontonan pembuka di Festival Cannes tahun ini dan lumayan sukses secara finansial.

Gil (Owen Wilson) dan Inez (Rachel McAdams) adalah sepasang kekasih yang sedang berlibur ke Paris sekaligus menemani orang tua Inez mengurus bisnis mereka disana. Gil adalah seorangscreenwriter Hollywood yang sukses, namun ia sedang berkutat dengan novel perdana yang menjadi impiannya. Gil selalu menyukai kota Paris, ia menganggap kalau Paris adalah kota yang tepat untuk seniman seperti dirinya. Bahkan, ia memiliki impian untuk tinggal di Paris setelah ia menikah nanti. Ia bahkan tidak keberatan berjalankaki di kota itu pada saat hujan, bahkan Gil merasa itulah saat-saat terbaik yang dinantikannya. Gil juga punya pemikiran bahwa pada masa1920-an pasti sangat asik apabila hidup dan tinggal di Paris, itu merupakan 'golden age' versi Gil.

Suatu malam pada saat Inez pergi ke club dengan teman-temannya, Gil lebih memilih untuk berjalan kaki di sepanjang jalanan Paris menuju hotelnya. Tepat tengah malam, ada sebuah mobil yang berhenti dan mengajaknya untuk bergabung. Tanpa pikir panjang Gil pun ikut dengan orang-orang yang tidak dikenalnya itu. Ketika tiba di sebuah pesta, Gil mengamati keadaan sekitar. Terlihat suasana vintage yang sangat kental, dengan gaya busana dan tata rambut seperti jaman dulu. Namun yang membuat Gil kaget setengah mati adalah ketika ia disana berkenalan dengan nama-nama besar seperti Ernest Hemingway (Corey Stoll), F. Scott Fitzgerald (Tom Hiddleston), Zelda Fitzgerald (Alison Pill), Cole Porter (Yves Heck), Pablo Picasso (Marcial Di Fonzo Bo), Salvator Dali (Adrien Brody), dll. Gil seperti kembali ke masa lalu, masa yang sangat ia impikan. Sejak hari itu, setiap tengah malam ia selalu bertemu dengan 'teman-teman' nostalgianya. Curhat dengan Fitzgerald, berkonsultasi tentang novel dengan Hemingway, mendapat petuah hidup dari Dali, sampai melihat langsung Picasso melukis.

Saya menonton Midnight in Paris tanpa mengetahui jalan ceritanya sama sekali. Saya belum membaca sinopsis dan tidak memiliki bayangan apapun tentang isi film ini. Terus terang saya tertarik sekali dengan judul dan posternya, namun entah mungkin karena pemeran utamanya adalah Owen Wilson, saya kurang begitu tertarik. Namun ternyata perlu saya akui kalau Owen Wilson adalah pilihan yang tepat sebagai Gil, ia membawakan karakter Gil dengan sangat natural. Minggu lalu saya memutuskan untuk mencoba menonton film ini karena faktor 'Paris' yang membuat penasaran dan nama besar Woody Allen disana. Olala..ternyata saya sangat menyukai ide cerita yang diangkat Woody dalam film ini! Terkadang nostalgia memang membawa perasaan menyenangkan tersendiri. Melihat karakter Gil yang sedang bernostalgia ke masa-masa golden age-nya, saya sepertinya juga merasa excited sendiri. Ada sisi menggelitik tersendiri ketika melihat karakter-karakter besar seperti Hemingway, Fitzgerald, Dali, Picasso, Porter, dll 'dihidupkan' kembali.

Kehadiran nama-nama yang sudar familiar di daftar pemeran pendukung juga membuat film ini semakin menarik. Marion Cotillard juga sukses mencuri perhatian dalam film ini. She is so-super-duper pretty! Latar belakang kota Paris dengan bentuk bangunan-bangunan yang menurut saya romantis itu sangat pas dengan tema nostalgia, apalagi didukung dengan pilihan-pilihan soundtrack yang sempurna. Saya juga suka dengan ending yang dipilih oleh Woody. Saya merasa kalau pada ujungnya nanti, dalam situasi apapun yang sedang kita alami, kita memang harus mengikuti kata hati (but use a little bit of your brain too, of course!). Semua ilusi atau apapun yang sedang dialami oleh karakter Gil sebenarnya merupakan jeritan hatinya selama ini, fantasi yang dijalaninya beberapa waktu terakhir di Paris menurut saya adalah refleksi dan komunikasi yang sedang berusaha ia keluarkan. Dengan berfantasi seperti itu Gil mendapatkan ketenangan dan kehadiran tokoh-tokoh favoritnya itu juga membuatnya lebih percaya diri dengan keputusan yang akan diambilnya. Midnight in Paris adalah salah satu film favorit saya tahun ini! VoilĂ ! :) Ngomong-ngomong kapan yaa saya bisa berkunjung ke kota Paris? Hmm.. *ngarep* hahahaha..





Friday, October 21, 2011

REVIEW: FRIENDS WITH BENEFITS




































"Men and women can't be friends."

Belum lama rasanya saya menonton No Strings Attached yang diperankan oleh Ashton Kutcher dan Natalie Portman, kali ini masih pada tahun yang sama hadir lagi satu film dengan tema serupa, Friends with Benefits. Sang sutradara, Will Gluck, tahun 2010 lalu berhasil menyutradarai Easy A yang membuat akting Emma Stone dalam film tersebut mendapat pujian sana sini. Rasa penasaran lah yang membuat keinginan untuk segera menonton Friends with Benefit, apalagi Justin Timberlake dan Mila Kunis terlibat cinta lokasi dalam proses syuting film ini. Saya jadi tidak sabar melihat bagaimana chemistry yang dihasilkan. Tema filmnya sendiri memang tidak istimewa, bisa dibilang pasaran. Selain No Strings Attached, film tahun 1989 When Harry Met Sally juga membawa tema serupa dan sampai sekarang menurut saya film itu lah yang paling baik, salah satu film favorit saya!

Dylan (Justin Timberlake) adalah seorang editor yang baru saja pindah kerja ke New York. Di kota besar itu ia bertemu dengan Jamie (Mila Kunis) yang membantunya mendapatkan pekerjaan di salah satu media ternama disana. Keduanya baru saja putus cinta dan dalam waktu sekejap mereka sudah akrab dan menjadi teman baik. Akan tetapi karena memang dasarnya berbeda jenis kelamin, mereka sepakat untuk melangkah lebih jauh dari hubungan pertemanan yang sedang dijalin tersebut. Keduanya merasa sama-sama tertarik secara fisik satu sama lain, maka menurut mereka tidak ada salahnya mereka berhubungan sex tanpa menjalin hubungan asmara, hanya murni pertemanan saja. Kelanjutannya tanpa perlu saya spoiler panjang lebar disini pun pasti semua sudah bisa menduga-duga endingnya akan berujung seperti apa.

Klise memang, akan tetapi menurut saya Friends with Benefits lumayan sukses menghibur. Akting Justin Timberlake dan Mila Kunis disini bisa dibilang terlihat alami, lagipula adegan ranjang yang mereka lakoni juga terlihat alami. Seperti yang sudah diduga, chemistry yang terjalin antara mereka sangat terasa. Beberapa cameo ternama juga ikut memeriahkan film ini seperti Woody Harrelson, Richard Jenkins, Emma Stone, dll. Secara keseluruhan saya lumayan menyukai film ini, tidak sampai istimewa sekali, mungkin tidak akan saya ingat dalam jangka waktu yang lama. Akan tetapi tidak dapat dipungkiri juga kalau Friends with Benefits termasuk sebuah tontonan romcom yang sangat menghibur. Dialog-dialog 'cerdas' sepanjang film lumayan membuat penonton tersenyum. Satu hal lagi yang menonjol dari film ini adalah sisi modern yang ditonjolkan didalamnya, termasuk adegan-adegan yang lumayan vulgar, jadi jangan ajak adik yang masih dibawah umur untuk menonton film ini. Overall, I didn't love the film - but I liked and enjoyed it! :)





Tuesday, August 9, 2011

REVIEW: SOMETHING BORROWED




































"I thought guy like you would never like girl like me."

Something Borrowed diangkat dari sebuah novel percintaan karya Emily Giffin dengan judul yang sama. Layaknya sebuah film romantic comedy yang ringan, Something Borrowed juga tidak bermodalkan script luar biasa ataupun twist yang rumit, melainkan hanya menjadi sebuah tontonan yang manis. Saya pribadi sangat menyukai film ini, saya rasa para wanita lainnya juga akan menikmati alur cerita yang disuguhkan. Simple story, predictable ending, but very sweet and touching at the same time! Kehadiran Kate Hudson dan John Krasinski dengan kualitas akting mereka yang jempolan dalam film ini juga sangat membantu menambah poin plus pada keseluruhan film. Saya yang belum pernah membaca novelnya malah jadi ingin segera beli! :)

Rachel (Ginnifer Goodwin), seorang wanita yang biasa-biasa saja. Saat kuliah di jurusan hukum ia bertemu dengan seorang pria tampan bernama Dex (Colin Egglesfield). Mereka akrab satu sama lain dan diam-diam Rachel memendam perasaannya terhadap Dex. Akibat tidak percaya diri, Rachel hanya bisa pasrah ketika Dex 'direbut' oleh sahabatnya yang cantik dan sexy, Darcy (Kate Hudson). Sampai pada saat Dex dan Darcy sudah akan mempersiapkan pernikahan, Rachel malah tidak sengaja mengungkapkan perasaannya kepada Dex. Tidak disangka, Dex juga merasakan hal yang sama. Namun, Rachel berada pada keputusan yang sulit, apa ia harus memilih untuk memperjuangkan pria yang dicintainya namun menyakiti sahabat terbaiknya atau mundur agar sahabatnya bahagia namun dirinya lah yang menderita?

Beruntung Rachel memiliki sahabat yang baik dan sangat perduli dengannya. Ethan (John Krasinski) selalu memberikan masukan dan motivasi kepada Rachel, ia berharap kalau Rachel dapat mendorong Dex untuk membuat pilihan secepatnya karena Ethan tidak suka melihat sahabatnya seperti dipermainkan perasaannya oleh Dex. Namun, situasi yang terjadi memang rumit. Apalagi Rachel dan Darcy sudah bersahabat sejak kecil, meskipun kepribadian keduanya sangat bertolak belakang tapi mereka sudah jelas sayang satu sama lain. Sulit memang ketika harus memilih antara cinta atau persahabatan.

Something Borrowed ternyata berhasil menjadi sebuah film romcom yang jauh lebih baik dari bayangan saya. Setiap karakter yang ada dalam film ini dimainkan dengan pas sekali oleh para aktor dan aktris yang ada. Saya sangat menikmati menonton film ini. Menurut saya cerita yang disajikan terlihat sederhana, namun sebenarnya rumit apabila kita membayangkan ada di posisi sang pemeran utama. Secara keseluruhan menurut saya film ini lumayan berhasil menyajikan sebuah tontonan yang mudah dicerna namun tidak menjadi sebuah tontonan 'sampah'. Sisi komedi dan romantis didalamnya tersaji dengan seimbang. Satu hal lagi yang penting, John Krasinski semakin membuktikan kalau ia adalah aktor yang patut diperhitungkan. Two tumbs up untuk aktingnya dalam film ini! Ohh well, mungkin saya tidak akan mengingat film ini sampai jangka waktu yang lama, namun saya tidak perduli karena saya sangat terkesan ketika selesai menontonnya. I enjoyed it so much! :)





Tuesday, June 14, 2011

REVIEW: BEASTLY




































"You have a year to make someone love you, or stay like this forever."

Beastly adalah sebuah cerita modern dari dongeng klasik 'Beauty and the Beast'. Sayangnya, kalau anda mengharapkan film ini seindah kartun versi Disney, anda akan kecewa. Sebetulnya ketika tahu bahwa kisah si cantik dan si buruk rupa ini akan dibuat versi live-action modern saya agak skeptis, satu hal yang tetap membuat saya penasaran ingin menonton film ini hanya Alex Pettyfer. Hehe.. Namun menurut saya para remaja mungkin masih akan terhibur dengan film ini, karena film ini termasuk ringan apalagi menyangkut cinta-cintaan remaja. Saya sendiri lumayan terhibur dengan adanya deretan soundtrack-nya yang memang bagus-bagus dan tentu saja lelucon Neil Patrick Harris, meskipun itu semua tidak terlalu membantu memberikan poin lebih pada keseluruhan film ini.

Kyle (Alex Pettyfer) adalah seorang pemuda yang tampan, kaya, dan populer, namun ia juga sombong dan banyak mengganggu anak-anak di sekolahnya. Ketika si penyihir, Kendra (Mary-Kate Olsen), merasa tersinggung dengan ejekan dari Kyle, ia akhirnnya menaruh mantra jahat pada Kyle yang membuatnya menjadi buruk rupa. Satu-satunya cara agak ketampanannya kembali seperti semula adalah menemukan cinta sejati dalam waktu satu tahun. Jika Kyle tidak dapat menemukan perempuan yang betul-betul menerima dan mencintainya apa adanya dalam kurun waktu tersebut, ia akan selamanya menjadi buruk rupa.
Ketika sang ayah tahu kalau wajah anaknya menjadi seperti itu dan malu kalau sampai diketahui orang lain akhirnya Kyle diasingkan ke sebuah rumah terpencil bersama seorang guru privat yang buta (Neil Patrick Harris) dan pembantu rumah tersebut (Lisa Gay Hamilton). Secara tidak sengaja ia mulai memperhatikan Lindy (Vanessa Hudgens), teman sekelasnya yang tidak populer. Lindy yang mempunyai masalah keluarga kemudian mulai menarik perhatian Kyle dan perlahan Kyle mulai jatuh cinta padanya. Lindy sebetulnya juga mempunyai perasaan khusus pada Kyle. namun kemudian yang menjadi pertanyaan adalah: apakah Lindy mau menerima Kyle yang buruk rupa seperti sekarang?

Beastly sebetulnya memang dibuat Daniel Barnz sesuai dengan cerita dongengnya, lengkap dengan nuansa modern dan soundtrack anak muda yang 'in'. Namun entah kenapa script film ini sangat biasa. Alex Pettyfer sebagai salah satu aktor yang namanya sedang cemerlang di kancah Hollywood memang bermain lumayan baik dalam film ini, namun sayang tidak adanya chemistry dengan Vanessa Hudgens menjadi masalah utama film ini. Film bergenre romance ini memang semestinya menceritakan sebuah cerita cinta klasik adaptasi dongeng fantasi, namun apa yang dihasilkan Beastly terasa kurang romantis karena tidak adanya chemistry antara pasangan pemeran utamanya itu. Satu hal lagi, Alex Pettyfer didandani jelek seperti itu saja masih tetap terlihat keren tuh! Haha.. Kalau sekedar untuk menonton iseng karena tidak ada lagi film bagus di bioskop atau mau melihat Alex Pettyfer/Vanessa Hudgens di layar lebar yaa tidak masalah, tapi menurut saya nonton di DVD juga sudah cukup. :)





Wednesday, April 27, 2011

REVIEW: EASY A



































"I had a horrible reputation."

Masih ingat dengan Mean Girls (2004)? Film remaja yang tergolong sukses itu dibintangi oleh Lindsay Lohan yang kala itu disebut-sebut sebagai 'the Hollywood rising star'. Mean Girls mengangkat tema di kalangan sekolah menengah atas dan segala permasalahannya, menurut saya film tersebut memang lucu, menghibur, dan yang paling penting 'jujur'. Kali ini Easy A hadir dengan menggandeng Emma Stone yang saat ini sedang naik daun dalam karirnya (Zombieland, Superbad, The House Bunny), mengambil tema yang hampir serupa dengan Mean Girls namun diceritakan dengan lebih agresif.

Emma Stone berperan sebagai Olive, seorang cewek 'biasa' di sekolahnya yang sama sekali tidak dilirik oleh lelaki, bahkan teman wanita pun sangat sedikit. Ia melakukan semua hal sendiri dan dibawah radar. Olive sudah pasti bukan cewek yang populer di sekolah, namun ia juga bukan the-biggest-loser disana. Ia hanya 'biasa'. Suatu hari, temannya Rhiannon (Alyson Michalka) mulai bertanya pada Olive tentang hubungan percintaannya dan tentu saja mengenai hubungan sex. Karena merasa terdesak, Olive berbohong dengan mengatakan kalau ia baru saja melakukan hubungan sex dengan seorang cowok kuliahan yang tampan. Sayang, Marianne (Amanda Bynes) tidak sengaja mendengar pembicaraan itu dan langsung menyebarkan gosip ke seantero sekolah. Sejak itu, Olive menjadi lumayan terkenal dan mulai dibicarakan orang.

Awalnya, Olive menyukai ketenaran yang mendadak itu, ia merasa senang karena tiba-tiba saja banyak orang yang mengenal dirinya. Ia pun mulai merubah penampilannya menjadi lebih hot. Namun tidak disangka banyak teman pria di sekolahnya yang minta bantuan padanya untuk berpura-pura sudah berhubungan sex dengan mereka. Ada juga seorang gay yang ingin image-nya berubah dan akhirnya meminta bantuan Olive. Tentu saja semua tidak gratis, Olive meminta imbalan yang tidak muluk yaitu hanya sebuah gift card. Alhasil, banyak orang yang ingin meminta bantuan Olive secara sembunyi-sembunyi. Lama kelamaan keadaan semakin memanas dan Olive pun sudah mulai 'gerah' dengan hujatan teman-teman di sekolah tentang dirinya, bahkan Rhiannon pun mulai membencinya. Ia harus segera memutar otak dan berfikir bagaimana caranya agar keadaan kembali tenang seperti sedia kala.

Emma Stone terlihat sangat bersinar dalam film ini. Semua adegan yang diperankannya terlihat sangat total dan pas. Ia banyak menggunakan ekspresi-ekspresi pada wajahnya pada adegan komedi dan hal tersebut berhasil menghibur. Sepertinya Emma sangat paham bagaimana caranya membuat sebuah mimik yang tepat dengan perasaan dan pikirannya dalam film ini. Saya yakin sekali kalau Emma Stone akan menjadi aktris besar someday, asal ia tidak mengikuti jejak Lindsay Lohan. Hehe.. Apalagi Emma sebentar lagi akan bermain dalam film Spider-Man (2012) terbaru bersama Andrew Garfield dan berperan sebagai Gwen Stacy. Selain Emma, para pemeran pembantu seperti Stanley Tucci, Patricia Clarkson, Lisa Kudrow, dll juga semakin membuat film ini meriah dengan totalitas akting mereka masing-masing.

Keberhasilan Easy A sebagai sebuah film komedi bukan hanya dari sang pemeran utama saja melainkan dari script atau jalan cerita film ini sendiri. Dialog-dialog yang to-the-point dan agresif sepertinya memang sengaja dibuat seperti itu sehingga sangat cocok dan terasa sangat modern ditonton oleh para remaja jaman sekarang. Saya pribadi merasa terhibur menonton film ini, jalan ceritanya terbilang unik, walau dengan dibumbui unsur sex namun tidak menjadi film esek-esek seperti film lokal kita. Silahkan hunting DVD-nya selagi film-film Hollywood sedang tidak masuk ke Indonesia. Lumayan untuk menghabiskan waktu di sore hari sambil ketawa-ketawa lihat si cantik Emma Stone. :)