Showing posts with label DRAMA. Show all posts
Showing posts with label DRAMA. Show all posts

Saturday, January 18, 2014

REVIEW: BLUE JASMINE

"Anxiety, nightmares and a nervous breakdown, there's only so many traumas a person can withstand until they take to the streets and start screaming."

Okay first of all, let me say, this just might be Woody Allen's finest film. There was NO bad perfomance in this movie in my opinion. Terutama, Cate Blanchett! Gosh, she did an awesome job here! Sebelumnya saya sudah dengar bagaimana bagusnya akting Cate di Blue Jasmine, namun saya tidak menyangka bahwa aktingnya akan sebagus ini. Begitu selesai nonton film ini, saya langsung bergumam sendiri, 'Anjrit, bagus banget aktingnya!'. Worth for the Oscar for sure! Saya tidak bisa membayangkan aktris lain memainkan karakter Jasmine yang sudah dibuat sedemikian rupa oleh Woody. Memang ia jagonya kalau menciptakan tokoh yang kompleks dan suka ngomong sendiri dengan isi kepala tumpah ruah, khas Woody Allen sekali.

Jasmine (Cate Blanchett) adalah seorang sosialita asal New York's Park Avenue. Suaminya, Hal (Alec Baldwin) adalah seorang pengusaha yang kaya raya. Namun kehidupan Jasmine berubah seketika begitu suaminya ternyata adalah seorang koruptor yang akhirnya masuk penjara dan bunuh diri disana. Pemerintah juga menyita hampir semua harta kekayaan miliknya. Karena mendadak miskin, terpaksa ia pergi ke San Fransisco untuk tinggal sementara dengan adiknya, Ginger (Sally Hawkins). Kehidupan Ginger sangatlah berbeda dengan Jasmine yang sangat mewah, ia hanya tinggal di sebuah apartemen kecil dengan kedua anaknya. Ginger sudah berpisah dengan suaminya, Augie (Andrew Dice Clay), dan ia sekarang sedang berpacaran dengan pria ugal-ugalan bernama Chili (Bobby Cannavale).

Jasmine tentu saja stress berat. Ia tidak punya pekerjaan, tidak ada pula lelaki kaya yang bisa dijadikannya prospek. Ia mulai mengalami gangguan saraf karena terlalu stress yang menyebabkan ia sering ngelantur ngomong sendiri kala mengingat masa lalu. "Some people, they don't put things behind so easily." Ia pun jadi bergantung pada pil penenang dan obat tidur. Belum lagi ia ketagihan pada alkohol. Kehidupannya hancur berantakan. Namun ia tetap saja 'tampil'. Bermodalkan baju, tas, sepatu, jaket, dan aksesoris mahalnya, ia tetap terlihat seperti wanita kaya yang juga masih tetap naik pesawat first class, meskipun sebenarnya ini hanya kamuflase saja. Gengsi pastinya berperan penting disini.

Cate Blanchett memerankan tokoh Jasmine dengan sangat realistis. Karakter Jasmine disini pastinya tidak disukai para penonton, namun tetap tidak bisa dipungkiri kalau penonton pun ikut iba sepanjang film. We just can't help but feel for her. Saya juga harus bilang kalau saya suka dengan semua outfit yang dipakai oleh Jasmine disini. All those designer dresses, cardigans, and handbags are just beautiful lol! Alec Baldwin juga pas sekali memerankan tokoh sang suami kaya yang terkesan sombong dan angkuh. Begitu juga dengan Sally Hawkins, yang karakternya sangat bertolak belakang dengan Jasmine. I love the contrast between the two. Peter Sarsgaard meski hanya muncul sebentar namun tetap punya esensi penting dalam keseluruhan film. Kehadiran Bobby Cannavale sebagai Chili juga membuat film ini semakin berwarna. Beberapa scene yang ada membuat saya tertawa dengan sajian black comedy ala Woody. Seperti yang saya bilang di awal, semua cast bermain dengan totalitasnya masing-masing.

Pada usianya yang sudah 77 tahun, Woody Allen sepertinya masih saja konsisten mengeluarkan paling tidak satu film setiap tahunnya. Ada yang bagus sekali, seperti Midnight in Paris (2010) -saya sangat suka film ini. Ada pula yang biasa saja dan ..hmm kurang bagus. Namun dengan kehadiran Blue Jasmine di tahun 2013, sekali lagi Woody Allen membuktikan kalau ia memang master-nya membuat film dan menulis cerita yang mempermainkan psikologi manusia. Emosional dan dramatis. Menyentuh dan membuat miris, namun tetap ada senyum didalamnya. Definitely one of his best movie in the last 20 years, and of course, one of my favourite too.






Friday, January 17, 2014

REVIEW: JACK RYAN: SHADOW RECRUIT

Viktor Cherevin: You Americans like to think of yourselves as direct. Perhaps you are just rude.
Jack Ryan: Perhaps you are just touchy.

Saya menonton Jack Ryan di hari pertama penayangannya pada hari Kamis lalu. Bukan karena tidak sabar, lebih pada sambil menunggu macet selepas pulang kerja. Karena rata-rata semua film sudah ditonton, jadi tidak ada salahnya menonton Jack Ryan. Jujur, saya tidak terlalu tertarik menonton film ini. Menurut saya akan biasa banget dan terlalu 'Mission Impossible'. Namun dengan tidak adanya ekspektasi sama sekali, saya ternyata sangat menikmati film ini. Tidak spesial memang, namun ketegangan yang disajikan dari awal hingga akhir begitu intens sehingga film ini menjadi tontonan yang seru dan menyenangkan. Very entertaining!

Diangkat dari karakter terkenal yang dibuat Tom Clancy, Jack Ryan bercerita tentang seorang pemuda yang membongkar akun finansial teroris asal Rusia yang ingin menjatuhkan finansial Amerika. Film dibuka ketika Jack (Chris Pine) yang merasa terpanggil untuk mengabdi kepada negara setelah ia menyaksikan kejadian 9/11. Ia lalu bertugas di Afghanistan dan mengalami cedera punggung parah yang mengharuskannya menjalani terapi yang lumayan lama. Seorang agen CIA bernama Harper (Kevin Costner) mendatanginya di tempat rehabilitasi dan menawarkannya untuk menjadi mata-mata. Ia lalu diminta untuk melanjutkan kuliahnya sampai mendapatkan gelar doktor dan bekerja di Wall Street Bank sebagai analis. Sepuluh tahun kemudian ia lalu menemukan kejanggalan pada sebuah akun milik Viktor Cherevin (Kenneth Branagh) asal Russia sampai pada akhirnya ia ditugaskan untuk pergi ke Russia dan membongkar semua terorisme ini. Dalam tugasnya ini, ia bukan hanya membantu negara, ia harus menyelamatkan dirinya sendiri dan juga tunangannya, Cathy (Keira Knightley).

Menurut saya Chris Pine merupakan pilihan yang 'aman' untuk memerankan reboot Jack Ryan ini. He is a very likeable lead. Dengan wajah yang terlihat seperti 'a Boy Scout on a field trip' face, karakter Jack Ryan kali ini dibangun dengan sangat manis dan realistis. Namun entah kenapa saya merasa Keira Knightley kurang pas memerankan tunangan Jack Ryan, chemistry antara mereka berdua kurang terasa dan ujung-ujungnya karakter Keira jadi terasa sedikit menyebalkan. Kenneth Branagh dan Kevin Costner termasuk pilihan yang oke dengan perannya masing-masing, sayang script yang disajikan memang serba 'nanggung'. Terus terang saya sangat menikmati Jack Ryan: Shadow Recruit ini, namun tidak bisa dipungkiri kalau film ini tidak terlalu istimewa dan forgettable. But did I say that I enjoyed the whole movie?







Wednesday, October 9, 2013

REVIEW: FLU (감기)

"Death is in the air you breathe."

Film Korea tidak dapat dipungkiri memang mulai banyak membanjiri konten bioskop tanah air belakangan ini. Saya pribadi sebetulnya tidak terlalu excited bila harus menyaksikan film Korea di bioskop, underestimate mungkin. 'Ah, di dvd saja!', begitu biasanya. Lagipula drama Korea juga terlalu melekat dengan kisahnya yang mendayu-dayu dan unyu (baca: menye-menye). Namun film-film Korea terakhir yang saya tonton di bioskop ternyata tidak mengecewakan sama sekali. Terakhir saya menonton Mr.Go (2013) yang menurut saya merupakan film keluarga yang menyenangkan untuk ditonton. Begitu melihat ada film FLU, saya langsung penasaran, entah kenapa saya memang selalu tertarik dengan film-film bertemakan disaster atau virus seperti Contagion (2011) misalnya. Seru saja!

Tidak ada ekspektasi apapun saya akhirnya menyaksikan FLU pada pemutaran premiere-nya. Dan saya pun tidak menyangka dapat dibuat tegang dari awal sampai akhir film. Tempo film sendiri berjalan sangat cepat sehingga dari awal saya tidak merasa bosan sama sekali, mengingat durasi film yang cukup panjang. Memang, seperti pada film Korea yang lain, ada beberapa scene yang terlalu diulur, dengan kata lain 'too much drama', tetapi secara keseluruhan FLU menurut saya adalah one of the best Korean movie I've seen. Penggarapannya maksimal, jalan cerita menarik, para pemain aktingnya luar biasa. Hal-hal minor yang menjadi kekurangan seperti efek CGI yang masih jelek sekali menurut saya tidak terlalu menjadi masalah, intinya I enjoyed this movie so much.

Cerita dimulai ketika adanya sebuah virus mematikan yang berasal dari sebuah kontainer perdagangan manusia dari Filipina menuju Korea. Bundang, yang menjadi tujuan kontainer itu pun langsung menjadi sorotan karena dalam kurang dari 24 jam virus flu mematikan ini menyebar dengan sangat cepat keseluruh penjuru kota. Kematian yang sangat cepat dan mengenaskan ini terjadi bertubi-tubi sebelum pemerintah sempat mengambil tindakan lebih lanjut, masyarakat Bundang terjangkit virus ini setiap menit!

Kang Ji Goo (Jang Hyuk) adalah seorang petugas pemadam kebakaran. Suatu hari ia menyelamatkan Kim In Hae (Soo Ae), seorang dokter muda cantik yang ternyata sudah memiliki seorang anak perempuan, Kim Mi Reu (Park Min Ha). Ji Goo pun jatuh cinta pada pandangan pertama pada In Hae, namun sayang tidak lama setelah itu, wabah virus mematikan tersebut langsung mengguncang kota Bundang. Ji Goo pun berusaha sekuat tenaga untuk melindungi In Hae dan putrinya agar selamat dari wabah virus flu.

Bersiap-siap untuk jatuh kecil dengan gadis kecil bernama Park Min Ha! Aktingnya super duper jempolan! Anda akan dibuat tertawa dan terharu melihat tingkah lugu dan menggemaskan Min Ha dalam film ini. But seriously, I think I've never seen a little girl who can act sooo natural like her. Jang Hyuk juga bermain sangat baik dalam film ini. Bicara soal aktor Korea, Jang Hyuk memang merupakan salah satu aktor favorit saya juga selain Cha Tae Hyun (My Sassy Girl, Hello Ghost). Soo Ae pun berhasil mengimbangi Jang Hyuk dan mereka terlihat cocok bermain dalam satu frame. Para pemeran pendukung yang lain juga oke dengan karakternya masing-masing, terutama sang presiden! God, he's so cool! Kalian harus lihat bagaimana si Pak Presiden ini kebingungan menangani kasus yang ada apalagi ditambah tekanan sana sini dari pihak luar negri dan pada akhirnya keputusan yang diambil pun membuat seisi bioskop tepuk tangan. Kharismatik, itu lebih tepat.

Akhirnya saya bisa bilang bahwa FLU adalah film yang layak untuk ditonton. It's a good movie, really. Tidak sempurna memang, jalan cerita juga lumayan klise memang, tapi tempo cerita dibuat sangat intens dan seru untuk ditonton. Penonton akan dibuat tegang, tertawa geli, sampai terharu, emosi dijamin campur aduk! Ini memang jagonya film maker Korea! Selagi menonton FLU kalau ada orang sebelah anda yang batuk-batuk pasti anda akan jadi parno sendiri, like what happened to me lol. But seriously, go see it guys, this movie was an enjoyable one for me, I'm sure you will enjoy it too. :)





Tuesday, October 8, 2013

REVIEW: GRAVITY 3D

"Do you dare to live in space?"

Saya tidak pernah bercita-cita menjadi seorang astronot. Membayangkan berkunjung ke luar angkasa saja sudah membuat saya bergidik ngeri. Namun tema yang diangkat Gravity karya Alfonso Cuaron ini berhasil membuat saya penasaran seperti apa sih rasanya hidup di luar angkasa. Saya tidak ingat apakah saya sempat bernafas di beberapa menit awal film, that's just how intense the opening minutes of Gravity are. Visualisasi yang spektakuler berhasil membuat penonton terkesima dengan gambar yang disajikan di layar, sound minim yang sengaja diciptakan pun semakin menambah ketegangan. Lama kelamaan intensitas yang sudah ada dari awal pun semakin terbangun dan membuat anda seakan sesak napas.

Gravity bercerita tentang Dr. Ryan Stone (Sandra Bullock) dan Matt Kowalski (George Clooney). Kowalski adalah seorang astronot veteran yang sudah sering berkunjung ke luar angkasa dan ia sangat menikmati hal itu. Stone adalah seorang ilmuwan yang sedang menjalani misi pertamanya ke luar angkasa untuk mengimplementasikan teknologi temuannya pada Hubble telescope. Lima belas menit pertama dalam film ini kita diperlihatkan apa yang mereka kerjakan di luar angkasa dan setelah itu terdengarlah pesan bahwa misi dibatalkan karena adanya serpihan pecahan pesawat Russia. Suasana menjadi tegang ketika Stone dan Kowalski tidak bisa lagi melakukan komunikasi ke Bumi, pesawat mereka pun hancur, dan mereka mau tidak mau harus mencari cara agar bisa selamat di luar angkasa. Dengan sisa oksigen yang tidak banyak, waktu yang sedikit, mereka berdua harus beradu dengan waktu untuk menyelamatkan nyawa mereka.

Sandra Bullock dan George Clooney menurut saya merupakan pasangan yang pas, chemistry yang terjalin dalam film ini sangat terasa dan masing-masing dari mereka pun memberikan performa akting yang brilian. Karakter masing-masing yang dimainkan juga sepertinya menempel sempurna pada keduanya. Alfonso Cuaron sepertinya paham betul dengan apa yang ia buat kali ini, ia seperti menciptakan sebuah seni berlatar belakang angkasa luar. Indah sekali. Mulai dari movement para pemain, pemandangan bumi dari atas, luar angkasa itu sendiri, sampai pecahan-pecahan puing yang dasyat. Mungkin ada beberapa orang yang tidak terlalu suka menonton film tiga dimensi, but trust me for this one you gotta watch the 3D version. Luar angkasa, adalah latar belakang yang tepat untuk menunjukkan pada penonton bagaimana efek 3D dapat begitu terasa dalam sebuah film serta sensasi menonton yang amat beda.

Terus terang jalan cerita Gravity memang bisa dibilang sangat simple. Saya yakin bagi sebagian orang film ini akan terasa membosankan, I think with this kind of movie it's either you love it or you hate it. Namun menurut saya pribadi, kesuksesan sang sutradara mengemas film ini sedemikian rupa dengan hanya diisi oleh dua aktor merupakan sebuah prestasi yang cemerlang. Ide yang sederhana ini berhasil ia tuangkan menjadi sebuah tontonan berseni. It is very, very, intense. Kudos untuk pengamatan detail Cuaron pada suara yang ada dalam film ini, dimana hal ini semakin menambah ketegangan dalam setiap scene-nya. Gravity surely gave me a whole different cinematic experience.






Saturday, June 29, 2013

REVIEW: WHITE HOUSE DOWN

"Don't touch the Jordans!"

Orang sudah pasti akan membandingkan White House Down dengan Olympus Has Fallen yang baru saja tayang beberapa bulan lalu. Kedua film ini tayang dengan jarak waktu yang tidak terlalu jauh dan memiliki tema yang bisa dibilang sama, dimana negara Amerika diselamatkan oleh seorang pria pemberani dengan bermodalkan pistol. Jika saya harus memilih diantara kedua film tersebut terus terang saya sendiri bingung karena menurut saya keduanya memiliki nilai yang sama. Both are not a bad movie; but not a great movie either. Namun White House Down merupakan sebuah tontonan yang fun karena humor yang diselipkan disepanjang film. Jangan mengharapkan sesuatu yang berbeda dari segi cerita karena dari segi cerita sendiri bisa dibilang sangat klise. But yeah, it was a fun summer blockbuster movie.

Presiden Amerika Serikat, James Sawyer (Jamie Foxx), sedang berada di tengah misinya untuk berdamai dengan wilayah Timur Tengah, dan seorang perwira polisi Capitol, John Cale (Channing Tatum) sedang berada di White House dengan harapan ia dapat lulus interview dan diterima menjadi salah seorang secret agent pengawal presiden. Meski aplikasinya ditolak, ia tetap berada di White House sembari menikmati tur disana guna menemani anaknya yang gila politik, Emily (Joey King). Namun ditengah tur terjadi keributan di Gedung Putih karena adanya orang dalam yang berkhianat. Disaat berlangsungnya aksi pengambilalihan Gedung Putih, John dan putrinya terpisah. John menjadi satu-satunya orang yang selamat dan menjadi tumpuan utama untuk menyelamatkan Presiden dan ia juga sekaligus harus mencari cara agar bisa melindungi putrinya sebelum para terroris berhasil menghancurkan simbol terbesar bangsa Amerika.

Aksi 'kucing - tikus' berlangsung terus sepanjang film. Tempo film ini sendiri memang agak slow dari awal menjelang pertengahan, namun menuju akhir sepertinya kekonyolan demi kekonyolan mulai semakin mendominasi sehingga menurut saya itu menjadi salah satu penyelamat White House Down. Entah bagaimana jadinya kalau tidak ada selipan humor dalam film ini, karena terus terang dari segi cerita memang bukan sesuatu yang baru. Namun jujur, saya suka dengan ending yang disajikan. Akting Channing Tatum sebagai hero disini juga bagus. Jamie Foxx awalnya menurut saya kurang cocok, namun kembali lagi, setelah kekonyolan mulai lebih mendominasi saya jadi meralat hal tersebut. The rest of the cast was not bad. Pertanyaannya, apakah White House Down adalah sebuah film yang menyenangkan untuk ditonton? Ya. Is it a GREAT movie? No. Apakah film ini termasuk salah satu film summer terbaik tahun ini? Tidak. Tapi saya cukup menikmati dua jam lebih yang saya lewati untuk menonton film ini. :)





Friday, June 21, 2013

REVIEW: STOKER

"This is me. Just as a flower does not choose its color, we are not responsible for what we have come to be."

Disutradarai oleh Park Chan Wook (Old Boy, Thrist) dan ditulis oleh aktor Prison Break, Wentworth Miller, Stoker merupakan sebuah karya thriller yang unik tentang sebuah keluarga 'sakit'. Film ini juga merupakan debut film berbahasa Inggris pertama dari Park. Salah satu hal yang paling menarik dalam film ini adalah Park's directorial style. Dikenal dengan gaya pengambilan gambar yang kinetic, scene dalam Stoker terasa begitu indah dan penuh makna terselubung. Dari awal sampai akhir film ada saja scene yang membuat saya amaze sangking kagum akan perhatian sang sutradara pada hal-hal detail yang ada.

Stoker berkisah tentang India Stoker (Mia Wasikowska), seorang remaja pintar yang terlahir dari keluarga kaya. Ia berkepribadian introvert dan lebih suka menyendiri. Satu-satunya orang yang paling dekat dengan India hanyalah ayahnya (Dermot Mulroney), namun sayang pada ulang tahunnya yang ke-18 sang ayah meninggal dunia karena kecelakaan. India yang sedang berkabung harus berkutat dengan ibunya, Evelyn (Nicole Kidman), yang adalah seorang pecandu minuman keras dan terkesan tidak terlalu perduli akan kematian suaminya. Masalah mulai muncul ketika tiba-tiba mereka kedatangan sosok misterius bernama Charlie (Matthew Goode) yang ternyata adalah adik almarhum. India yang tidak pernah tahu bahwa ia punya paman pun merasa risih akan kemunculan Uncle Charlie. Lain hal nya dengan Evelyn yang terlihat begitu senang dengan kedatangan sosok laki-laki muda tampan itu.

Warna-warna dalam film ini sangat menakjubkan. Pengambilan gambar serta score juga saling mendukung satu sama lain. Terlebih Nicole Kidman dan Matthew Goode yang menawarkan kualitas akting top performances. Wajah tanpa ekspresi Mia Wasikowska (yang sebetulnya kurang saya sukai) ternyata sangat cocok dengan karakter yang dimainkannya disini. Sempurna dengan tatapan dingin dan tidak bisa ditebak maunya apa. Kehadiran aktris asal Australia, Jacki Weaver (Animal Kingdom), juga patut dipuji karena meski hanya muncul sebentar dalam film ini namun intensitas emosi yang ia tunjukkan menunjukkan kualitasnya sebagai salah seorang aktris yang tidak bisa dipandang sebelah mata.

Akan tetapi, Stoker memang bisa dikatakan adalah film Mia. She is the main key. Chemistry seksual antara India dan Uncle Charlie bisa dibilang sangat elektrik! Luar biasa! Salah satu adegan terbaik dalam film ini terjadi ketika mereka berdua duduk dan bermain piano bersama memainkan alunan musik dari Philip Glass. Believe me, it's 'piano-sex' everyone! Musik yang mengalir di antara mereka bagaikan koneksi penetratif. Wow. Film ini juga menyertakan sebuah scene yang menurut saya one of the best masturbation scene on film. Absurb memang, tapi entahlah menurut saya scene tersebut dieksekusi dengan sangat intens. In a sick way. lol.

Scene akhir film juga menurut saya sangat berseni. Park Chan Wook dan sinematografernya, Chung Chung Hoon, mengambil gambar kiasan dengan sangat detail dan membuat saya menikmati sampai akhir. Dari segi cerita sendiri sebetulnya masih banyak hal janggal yang jadi pertanyaan di benak saya, namun entah kenapa seperti ada sesuatu yang istimewa dari Stoker. Sesuatu yang menempel dalam ingatan saya. Mulai dari gambar-gambar yang disajikan, akting dan ekspresi para pemainnya yang brilian, musik pengiring yang intens, sampai kesadisan yang sebetulnya tidak terlalu sadis secara visual namun mampu membuat saya merinding dalam beberapa scene. Thanks to esensi detail dari sang sutradara, film ini menjadi sebuah karya yang sayang untuk dilewatkan bagi para penikmat film. Jelas ini tidak dapat dinikmati oleh semua orang, tapi tidak ada salahnya menikmati sebuah karya seni yang indah sesekali. :)





Thursday, June 20, 2013

REVIEW: WORLD WAR Z

"Get ready for lots of Z!"

Hal pertama-tama yang menarik dari World War Z adalah trailernya. Ya, trailer World War Z tidak terlalu banyak menceritakan isi film, hanya saja sajian tumpukan mayat hidup yang luar biasa banyak kiranya sudah menggugah untuk segera menyaksikan film ini bukan? Paling tidak itulah yang saya rasakan. Menonton trailer World War Z membuat saya bergumam 'Yes, another zombie movie!'. Meskipun bukan pecinta film horror, tapi entah kenapa saya selalu tertarik untuk menonton film bertema zombie,  entah itu yang mencengangkan seperti favorit saya 28 Days Later (2002) dan Dawn of the Dead (2004) atau yang dengan sentuhan humor seperti Shaun of the Dead (2004) dan Zombieland (2009). Saya memutuskan untuk menonton film ini dengan ekspektasi yang biasa-biasa saja, karena sudah lama tidak ada film zombie yang bagus. Ternyata World War Z melebihi ekspektasi saya. I enjoyed it so much!

Ketika sebuah virus yang merubah manusia menjadi zombie menyerang dunia, seorang mantan penyidik PBB, Gerry Lane (Brad Pitt), menjadi harapan terakhir untuk menghentikan para zombie dari penyebaran virus mereka. Meski baru saja meninggalkan PBB, ia mau tak mau setuju untuk ikut membantu karena ini satu-satunya cara untuk memastikan keluarganya dilindungi dari para zombie. Seiring dengan misinya ini, Gerry diharuskan untuk pergi ke beberapa negara seperti Korea dan Israel guna mencari tau darimana asal mula virus zombie berasal. Puncaknya ada di Wales dimana ia dan WHO bekerja sama mencari penangkal virus yang masih tidak jelas ini.

Jarang ada film yang memiliki banyak kekurangan dari segi cerita namun tetap bisa sangat menghibur penonton. Jujur saja, banyak plot holes dalam World War Z yang jadi terabaikan sangking serunya film ini. Mungkin karena special effects yang disajikan memang fantastis, para zombie juga terlihat menakutkan tanpa terkesan berlebihan, dan sang jagoan juga tidak banyak ngomong yang tidak perlu, intinya 'gak lebay'. Bohong kalau anda tidak kaget kala menonton film ini. Saya beberapa kali dibuat kaget setengah mati karena zombie yang muncul tiba-tiba. But it was super fun tho!

Tempo film ini juga berjalan sangat cepat, anda tidak akan merasa bosan dari awal hingga akhir karena terror yang ada begitu bertubi-tubi sampai anda tidak akan sempat duduk tenang. Begitu film dimulai langsung ada zombie dimana-mana, ledakan, orang-orang berlarian, teriak, ketakutan (baca: heboh). Karena begitu singkatnya waktu yang diberikan pada penonton untuk bersantai sejak awal film, makanya seterusnya penonton akan dibuat ikut panik bersama dengan sang tokoh dalam film. Selamat tegang, kawan. :p

Berbicara tentang Brad Pitt, selain ia memang terlihat semakin tampan dengan rambut gondrong nanggung gak jelasnya itu, penampilannya memang tergolong sangat baik dalam film ini. Disini bisa dibilang ia seperti bermain sendiri karena kebanyakan orang-orang yang ia temui dalam misinya hanya muncul sebentar saja, either mereka mati atau jadi zombie. It explains why the film needed an A-lister in the lead. Brad Pitt menurut saya merupakan pilihan yang tepat untuk karakter jagoan disini, kita dibuat percaya bahwa he's just a regular, smart guy who can kick arse. Hehe.. Selain Pitt, penampilan dan kharisma kuat dari Daniella Kertesz sebagai seorang prajurit muda Israel juga mencuri perhatian.

World War Z merupakan sebuah tontonan yang sangat menghibur. Jangan mengharapkan sajian cerita yang dalam dan berliku, lengkap dengan ending yang tidak terduga karena bukan itu yang akan anda dapatkan dari film ini. Tinggalkan hal-hal detail yang ada. Ini musim liburan, saatnya menonton sebuah film yang murni menghibur. Seru. Menonton World War Z bagaikan sedang menaiki roller coaster yang naik turun dan membuat adrenalin mengalir kencang. Para penggemar film zombie hard core mungkin akan skeptis terhadap film ini, namun saya jamin para moviegoers akan menikmati film ini seperti saya yang juga sangat menikmatinya. Saran saya, just watch World War Z and have fun along the way! :)





Sunday, June 16, 2013

FLASH BACK TO 1998: THE TRUMAN SHOW


"Good morning, and in case I don't see ya, good afternoon, good evening, and good night!"

Pernahkan anda membayangkan kalau ternyata ada banyak orang yang sedang menonton anda saat ini? Bukan hanya saat ini saja, akan tetapi selama 24 jam penuh. Bagaimana kalau ternyata rumah nyaman yang anda tinggali, pekerjaan yang anda jalani, teman-teman anda, bahkan orangtua dan pasangan anda adalah bagian dari sebuah reality show paling terkenal di seluruh dunia dengan anda sebagai pemeran utamanya. Kedengarnya tidak terlalu buruk bukan? Tapi akan beda ceritanya kalau ternyata hanya anda lah satu-satunya orang yang tidak tahu sama sekali tentang konspirasi ini.

Bagi Truman Burbank (Jim Carrey), hidupnya seolah normal seperti orang-orang lainnya. Ia menjalani pekerjaannya sebagai seorang sales di sebuah perusahaan, memiliki sebuah rumah nyaman di daerah 'Seahaven', dan seorang istri cantik bernama Meryl (Laura Linney). Selama 30 tahun hidupnya, kegiatan Truman setiap harinya disiarkan secara langsung ke televisi dalam sebuah acara reality show terkenal "The Truman Show". Acara ini sangat disukai masyarakat, mereka menontonnya di restoran, di bar, di rumah, dimana saja. Bahkan para penonton juga bisa memesan langsung barang-barang yang ada dalam acara tersebut dalam 'Truman Catalog'.

Truman tidak pernah tau bahwa daerah 'Seahaven' hanyalah sebuah kubah besar yang di-set sedemikian rupa sehingga terlihat seperti sebuah kota yang normal dan rapi. Sampai suatu pagi sebuah lampu panggung jatuh dari langit dan ia mulai bertanya-tanya apa yang sedang terjadi. Belum lagi ia tiba-tiba melihat sosok ayahnya muncul di tengah kota, padahal sang ayah telah meninggal dunia pada kecelakaan kapal di laut waktu ia kecil. Keanehan demi keanehan terus terjadi dan semakin lama hal ini semakin membuat Truman curiga. Sang pencipta acara, Christof (Ed Harris), mencoba mengendalikan kecurigaan Truman bahwa dunianya hanya berputar-putar dan orang-orang disekelilingnya hanyalan aktor dan aktris. Truman merasa ia harus melarikan diri dan mencari tau apa yang sebenarnya terjadi.

Film ini membuktikan bahwa sebuah ide yang gila dapat disajikan menjadi sebuah film yang luar biasa. Saya suka sekali ide original yang tersaji. Meski saya bukan fans Jim Carrey, namun harus saya akui kalau ia tampil beda disini, namun tidak meninggalkan sisi konyol yang memang menjadi ciri khasnya. Beberapa gambar dalam "The Truman Show" juga dibuat dalam perspektif yang menarik berbentuk elips, seperti mata manusia. Hal ini membuat film ini terasa lebih 'hidup'.

Saya juga merasa bahwa penempatan iklan dalam film ini juga menjadi hiburan tersendiri. Orang-orang terdekat Truman selalu mempromosikan berbagai item barang serta menyebut keuntungan dan kualitas khususnya sambil mengarah ke kamera. Hal ini menunjukkan bahwa "The Truman Show" bertindak sebagai acara televisi yang memang tidak pernah lepas dari iklan.

Pada akhirnya saya bisa mengatakan bahwa The Truman Show merupakan salah satu film favorit saya dengan ide-nya yang unik dan sarat akan peringatan tentang kekuatan media massa bahkan pada saat televisi belum menjadi begitu populer seperti sekarang ini. Film ini juga memiliki pesan bahwa semua orang memiliki hak untuk kebebasan dalam hidup dan juga membuat kita lebih menghargai hidup kita apa adanya. :)






Friday, March 30, 2012

REVIEW: THE WOMAN IN BLACK


























"Don't go chasing shadows."

Daniel Radcliffe berperan sebagai orang dewasa dalam sebuah film horror? Menarik. Well, at least dia bukan Harry Potter disini. Berawal dari rasa penasaran melihat transformasi Radcliffe tersebut akhirnya saya pun menonton The Woman in Black sewaktu pulang kantor, sendirian pula. Saya pribadi bukanlah pecinta genre horror, namun tetap saja sesekali penasaran juga biarpun nantinya bakal banyak reaksi 'tutup muka pake tangan dan ngintip dari sela-sela jari'. Entah kenapa film yang kata orang-orang lumayan bagus ini menurut saya malah tidak seram sama sekali, hanya kaget-kagetan sepanjang film, itu pun bisa dibilang biasa-biasa saja. Saya masih ingat film horror terakhir yang menurut saya bagus adalah Insidious (2010). Sebetulnya kedua film ini sama-sama mengangkat tema oldschool-horror, akan tetapi The Woman in Black terasa gampang ditebak, membosankan, dan klise.

Seorang pengacara muda, Arthur Kipps (Daniel Radcliffe) yang sedang berjuang untuk hidup dan anak lelakinya sejak kematian istri tercintanya. Ia pun mendapat tugas untuk pergi ke sebuah daerah terpencil untuk melihat sebuah villa besar yang sudah lama tidak ditinggali. Anehnya, masyarakat di daerah tersebut sepertinya tidak bersahabat dan menyuruh Arthur untuk pergi saja dari sana. Arthur yang penasaran malah masuk kedalam rumah tersebut dan akhirnya ia menemukan kejanggalan demi kejanggalan didalamnya. Kejadian-kejadian seram pun terjadi terus menerus di daerah itu sejak kedatangan Arthur, terlebih setelah Arthur melihat sosok seorang wanita berbaju hitam disana. Sudah terlanjur basah, Arthur dan dibantu oleh salah satu orang paling kaya di daerah itu, Daily (Ciaran Hinds), akhirnya memutuskan untuk menguak misteri menyeramkan yang terjadi disana.

Sepanjang film rasanya saya hanya disuguhkan wajah ketakutan Daniel Radcliffe saja. Luar biasa membosankan sekali. Sudah tau villa itu berhantu tetap saja dia masuk, sudah dipesan jangan mengejar bayangan tetap saja dia 'kepo'. Klise! Tapi memang ada beberapa bagian yang berhasil bikin kaget penonton. Tapi apa enaknya kalau cuma kaget-kaget gak penting sepanjang film, iya khan!? Semua ekspresi yang ada dalam film ini sepertinya sangat dibuat-buat supaya 'horror', penonton seperti 'dipaksa' untuk takut. Usaha terus menerus untuk membuat penonton takut datang bertubi-tubi mulai dari sound yang mendadak besar, efek suara, gambar yang gelap, dll. Padahal tidak ada ngeri-ngerinya sama sekali! Satu-satunya yang positif dari film ini menurut saya hanya sinematografinya yang ber-setting Inggris tahun 40-an, dimana segala sesuatunya masih vintage dan terasa 'creepy'. Overall, don't like this movie, the ending just make the movie even worse. Avoid.