Showing posts with label THRILLER. Show all posts
Showing posts with label THRILLER. Show all posts

Friday, January 17, 2014

REVIEW: JACK RYAN: SHADOW RECRUIT

Viktor Cherevin: You Americans like to think of yourselves as direct. Perhaps you are just rude.
Jack Ryan: Perhaps you are just touchy.

Saya menonton Jack Ryan di hari pertama penayangannya pada hari Kamis lalu. Bukan karena tidak sabar, lebih pada sambil menunggu macet selepas pulang kerja. Karena rata-rata semua film sudah ditonton, jadi tidak ada salahnya menonton Jack Ryan. Jujur, saya tidak terlalu tertarik menonton film ini. Menurut saya akan biasa banget dan terlalu 'Mission Impossible'. Namun dengan tidak adanya ekspektasi sama sekali, saya ternyata sangat menikmati film ini. Tidak spesial memang, namun ketegangan yang disajikan dari awal hingga akhir begitu intens sehingga film ini menjadi tontonan yang seru dan menyenangkan. Very entertaining!

Diangkat dari karakter terkenal yang dibuat Tom Clancy, Jack Ryan bercerita tentang seorang pemuda yang membongkar akun finansial teroris asal Rusia yang ingin menjatuhkan finansial Amerika. Film dibuka ketika Jack (Chris Pine) yang merasa terpanggil untuk mengabdi kepada negara setelah ia menyaksikan kejadian 9/11. Ia lalu bertugas di Afghanistan dan mengalami cedera punggung parah yang mengharuskannya menjalani terapi yang lumayan lama. Seorang agen CIA bernama Harper (Kevin Costner) mendatanginya di tempat rehabilitasi dan menawarkannya untuk menjadi mata-mata. Ia lalu diminta untuk melanjutkan kuliahnya sampai mendapatkan gelar doktor dan bekerja di Wall Street Bank sebagai analis. Sepuluh tahun kemudian ia lalu menemukan kejanggalan pada sebuah akun milik Viktor Cherevin (Kenneth Branagh) asal Russia sampai pada akhirnya ia ditugaskan untuk pergi ke Russia dan membongkar semua terorisme ini. Dalam tugasnya ini, ia bukan hanya membantu negara, ia harus menyelamatkan dirinya sendiri dan juga tunangannya, Cathy (Keira Knightley).

Menurut saya Chris Pine merupakan pilihan yang 'aman' untuk memerankan reboot Jack Ryan ini. He is a very likeable lead. Dengan wajah yang terlihat seperti 'a Boy Scout on a field trip' face, karakter Jack Ryan kali ini dibangun dengan sangat manis dan realistis. Namun entah kenapa saya merasa Keira Knightley kurang pas memerankan tunangan Jack Ryan, chemistry antara mereka berdua kurang terasa dan ujung-ujungnya karakter Keira jadi terasa sedikit menyebalkan. Kenneth Branagh dan Kevin Costner termasuk pilihan yang oke dengan perannya masing-masing, sayang script yang disajikan memang serba 'nanggung'. Terus terang saya sangat menikmati Jack Ryan: Shadow Recruit ini, namun tidak bisa dipungkiri kalau film ini tidak terlalu istimewa dan forgettable. But did I say that I enjoyed the whole movie?







Tuesday, October 8, 2013

REVIEW: GRAVITY 3D

"Do you dare to live in space?"

Saya tidak pernah bercita-cita menjadi seorang astronot. Membayangkan berkunjung ke luar angkasa saja sudah membuat saya bergidik ngeri. Namun tema yang diangkat Gravity karya Alfonso Cuaron ini berhasil membuat saya penasaran seperti apa sih rasanya hidup di luar angkasa. Saya tidak ingat apakah saya sempat bernafas di beberapa menit awal film, that's just how intense the opening minutes of Gravity are. Visualisasi yang spektakuler berhasil membuat penonton terkesima dengan gambar yang disajikan di layar, sound minim yang sengaja diciptakan pun semakin menambah ketegangan. Lama kelamaan intensitas yang sudah ada dari awal pun semakin terbangun dan membuat anda seakan sesak napas.

Gravity bercerita tentang Dr. Ryan Stone (Sandra Bullock) dan Matt Kowalski (George Clooney). Kowalski adalah seorang astronot veteran yang sudah sering berkunjung ke luar angkasa dan ia sangat menikmati hal itu. Stone adalah seorang ilmuwan yang sedang menjalani misi pertamanya ke luar angkasa untuk mengimplementasikan teknologi temuannya pada Hubble telescope. Lima belas menit pertama dalam film ini kita diperlihatkan apa yang mereka kerjakan di luar angkasa dan setelah itu terdengarlah pesan bahwa misi dibatalkan karena adanya serpihan pecahan pesawat Russia. Suasana menjadi tegang ketika Stone dan Kowalski tidak bisa lagi melakukan komunikasi ke Bumi, pesawat mereka pun hancur, dan mereka mau tidak mau harus mencari cara agar bisa selamat di luar angkasa. Dengan sisa oksigen yang tidak banyak, waktu yang sedikit, mereka berdua harus beradu dengan waktu untuk menyelamatkan nyawa mereka.

Sandra Bullock dan George Clooney menurut saya merupakan pasangan yang pas, chemistry yang terjalin dalam film ini sangat terasa dan masing-masing dari mereka pun memberikan performa akting yang brilian. Karakter masing-masing yang dimainkan juga sepertinya menempel sempurna pada keduanya. Alfonso Cuaron sepertinya paham betul dengan apa yang ia buat kali ini, ia seperti menciptakan sebuah seni berlatar belakang angkasa luar. Indah sekali. Mulai dari movement para pemain, pemandangan bumi dari atas, luar angkasa itu sendiri, sampai pecahan-pecahan puing yang dasyat. Mungkin ada beberapa orang yang tidak terlalu suka menonton film tiga dimensi, but trust me for this one you gotta watch the 3D version. Luar angkasa, adalah latar belakang yang tepat untuk menunjukkan pada penonton bagaimana efek 3D dapat begitu terasa dalam sebuah film serta sensasi menonton yang amat beda.

Terus terang jalan cerita Gravity memang bisa dibilang sangat simple. Saya yakin bagi sebagian orang film ini akan terasa membosankan, I think with this kind of movie it's either you love it or you hate it. Namun menurut saya pribadi, kesuksesan sang sutradara mengemas film ini sedemikian rupa dengan hanya diisi oleh dua aktor merupakan sebuah prestasi yang cemerlang. Ide yang sederhana ini berhasil ia tuangkan menjadi sebuah tontonan berseni. It is very, very, intense. Kudos untuk pengamatan detail Cuaron pada suara yang ada dalam film ini, dimana hal ini semakin menambah ketegangan dalam setiap scene-nya. Gravity surely gave me a whole different cinematic experience.






Friday, July 19, 2013

REVIEW: THE CONJURING

"Look what she made me do."

James Wan is definitely a horror genius! Saw pertama yang disutradarainya tahun 2004 merupakan titik awal kejeniusannya dikenal dunia. That is a great slasher entertainment! Lalu tahun 2010 kemarin, Wan juga menakuti penonton dalam Insidious. Saya lumayan suka dengan Insidious yang menurut saya merupakan sebuah oldschool horror, reviewnya bisa dibaca disini. Tapi, semua tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan The Conjuring! Trust me, this movie will make you jump from your seat and scream like a little girl! Semua sudah di planned oleh James Wan dengan sangat baik, mulai dari cast, score, tone warna, script; and it turned out to be an epic shit horror! To make it worse, this movie is based on a true story. Damn.

Ed (Patrick Wilson) dan Lorraine Warren (Vera Farmiga) adalah pasangan suami istri paranormal yang bisa dibilang terkenal akan kemahiran mereka dalam memecahkan kasus gaib. Mereka mengajarkan tentang kekuatan ilmu hitam dan cara menanganinya dalam sebuah kelas, sambil juga tetap menerima kasus-kasus dan mengumpulkan semua footage yang ada. Mereka bahkan 'mengoleksi' barang-barang yang terisi ilmu hitam dan mengumpulkannya dalam satu kamar di rumah mereka, menurut Ed dan Lorraine akan lebih aman kalau barang-barang jahat ini dikumpulkan dalam satu tempat dibanding berada di tangan orang yang salah.

Ada satu kasus yang tidak mereka ceritakan pada public karena kasus ini merupakan kasus yang paling seram dan sulit selama mereka menjadi paranormal. Kasus ini dimulai ketika Carolyn (Lily Taylor) datang meminta bantuan Ed dan Lorraine untuk mencoba melihat apa yang terjadi didalam rumah baru mereka. Roger (Ron Livingston) dan Carolyn serta kelima anak perempuan mereka yang baru pindah ke sebuah rumah baru disamping danau mendapatkan gangguan-gangguan sejak hari pertama mereka menginjakkan kaki ke rumah tersebut. Semakin lama gangguan ini semakin membabi buta sampai akhirnya mereka memutuskan untuk mencari bantuan The Warrens. Hal ini di konfirmasi oleh Lorraine yang langsung mendapatkan perasaan tidak enak dan merasa sesuatu yang amat buruk pernah terjadi dalam rumah tersebut.

Saya suka bagaimana James Wan pelan-pelan membangun intensitas horror dalam film ini. Dimulai dengan ketakutan yang masih bisa ditolerir sampai berujung dengan seisi bioskop yang menjerit bersama. Bukan berarti anda akan dibuat santai di awal, oh tidak, anda tetap akan merasa tegang sejak awal film dimulai dan hal ini akan dibangun semakin kuat mulai pertengahan menjelang akhir. Banyak film horror yang misinya hanya menakuti penonton dengan membuat kaget dan mempertontonkan wujud super seram, tapi sebuah film horror yang baik adalah yang memiliki jalan cerita serta membuat para penontonnya bukan hanya kaget tapi takut secara emosional. That what makes it a good horror movie!

I can say that The Conjuring is simply the best horror movie I've seen. It's a classic! Sebuah horror pintar dengan ketakutan-ketakutan orisinil yang belum pernah anda lihat dimanapun. Disaat menonton, anda akan berfikir dalam hati dan mengambil ancang-ancang kemana ketakutan ini akan berujung, akan tetapi James Wan rupanya tau jalan pikiran anda dan malah menakuti anda dari sisi lain, ini yang membuat penonton tidak kuat menahan teriakan. End credit film ini juga sangat keren. Saya beruntung sekali bisa menyaksikan lebih dulu dalam preview screening kemarin malam, semua orang tepuk tangan setelah film usai. Clap, clap!





Saturday, June 29, 2013

REVIEW: WHITE HOUSE DOWN

"Don't touch the Jordans!"

Orang sudah pasti akan membandingkan White House Down dengan Olympus Has Fallen yang baru saja tayang beberapa bulan lalu. Kedua film ini tayang dengan jarak waktu yang tidak terlalu jauh dan memiliki tema yang bisa dibilang sama, dimana negara Amerika diselamatkan oleh seorang pria pemberani dengan bermodalkan pistol. Jika saya harus memilih diantara kedua film tersebut terus terang saya sendiri bingung karena menurut saya keduanya memiliki nilai yang sama. Both are not a bad movie; but not a great movie either. Namun White House Down merupakan sebuah tontonan yang fun karena humor yang diselipkan disepanjang film. Jangan mengharapkan sesuatu yang berbeda dari segi cerita karena dari segi cerita sendiri bisa dibilang sangat klise. But yeah, it was a fun summer blockbuster movie.

Presiden Amerika Serikat, James Sawyer (Jamie Foxx), sedang berada di tengah misinya untuk berdamai dengan wilayah Timur Tengah, dan seorang perwira polisi Capitol, John Cale (Channing Tatum) sedang berada di White House dengan harapan ia dapat lulus interview dan diterima menjadi salah seorang secret agent pengawal presiden. Meski aplikasinya ditolak, ia tetap berada di White House sembari menikmati tur disana guna menemani anaknya yang gila politik, Emily (Joey King). Namun ditengah tur terjadi keributan di Gedung Putih karena adanya orang dalam yang berkhianat. Disaat berlangsungnya aksi pengambilalihan Gedung Putih, John dan putrinya terpisah. John menjadi satu-satunya orang yang selamat dan menjadi tumpuan utama untuk menyelamatkan Presiden dan ia juga sekaligus harus mencari cara agar bisa melindungi putrinya sebelum para terroris berhasil menghancurkan simbol terbesar bangsa Amerika.

Aksi 'kucing - tikus' berlangsung terus sepanjang film. Tempo film ini sendiri memang agak slow dari awal menjelang pertengahan, namun menuju akhir sepertinya kekonyolan demi kekonyolan mulai semakin mendominasi sehingga menurut saya itu menjadi salah satu penyelamat White House Down. Entah bagaimana jadinya kalau tidak ada selipan humor dalam film ini, karena terus terang dari segi cerita memang bukan sesuatu yang baru. Namun jujur, saya suka dengan ending yang disajikan. Akting Channing Tatum sebagai hero disini juga bagus. Jamie Foxx awalnya menurut saya kurang cocok, namun kembali lagi, setelah kekonyolan mulai lebih mendominasi saya jadi meralat hal tersebut. The rest of the cast was not bad. Pertanyaannya, apakah White House Down adalah sebuah film yang menyenangkan untuk ditonton? Ya. Is it a GREAT movie? No. Apakah film ini termasuk salah satu film summer terbaik tahun ini? Tidak. Tapi saya cukup menikmati dua jam lebih yang saya lewati untuk menonton film ini. :)





Friday, June 21, 2013

REVIEW: STOKER

"This is me. Just as a flower does not choose its color, we are not responsible for what we have come to be."

Disutradarai oleh Park Chan Wook (Old Boy, Thrist) dan ditulis oleh aktor Prison Break, Wentworth Miller, Stoker merupakan sebuah karya thriller yang unik tentang sebuah keluarga 'sakit'. Film ini juga merupakan debut film berbahasa Inggris pertama dari Park. Salah satu hal yang paling menarik dalam film ini adalah Park's directorial style. Dikenal dengan gaya pengambilan gambar yang kinetic, scene dalam Stoker terasa begitu indah dan penuh makna terselubung. Dari awal sampai akhir film ada saja scene yang membuat saya amaze sangking kagum akan perhatian sang sutradara pada hal-hal detail yang ada.

Stoker berkisah tentang India Stoker (Mia Wasikowska), seorang remaja pintar yang terlahir dari keluarga kaya. Ia berkepribadian introvert dan lebih suka menyendiri. Satu-satunya orang yang paling dekat dengan India hanyalah ayahnya (Dermot Mulroney), namun sayang pada ulang tahunnya yang ke-18 sang ayah meninggal dunia karena kecelakaan. India yang sedang berkabung harus berkutat dengan ibunya, Evelyn (Nicole Kidman), yang adalah seorang pecandu minuman keras dan terkesan tidak terlalu perduli akan kematian suaminya. Masalah mulai muncul ketika tiba-tiba mereka kedatangan sosok misterius bernama Charlie (Matthew Goode) yang ternyata adalah adik almarhum. India yang tidak pernah tahu bahwa ia punya paman pun merasa risih akan kemunculan Uncle Charlie. Lain hal nya dengan Evelyn yang terlihat begitu senang dengan kedatangan sosok laki-laki muda tampan itu.

Warna-warna dalam film ini sangat menakjubkan. Pengambilan gambar serta score juga saling mendukung satu sama lain. Terlebih Nicole Kidman dan Matthew Goode yang menawarkan kualitas akting top performances. Wajah tanpa ekspresi Mia Wasikowska (yang sebetulnya kurang saya sukai) ternyata sangat cocok dengan karakter yang dimainkannya disini. Sempurna dengan tatapan dingin dan tidak bisa ditebak maunya apa. Kehadiran aktris asal Australia, Jacki Weaver (Animal Kingdom), juga patut dipuji karena meski hanya muncul sebentar dalam film ini namun intensitas emosi yang ia tunjukkan menunjukkan kualitasnya sebagai salah seorang aktris yang tidak bisa dipandang sebelah mata.

Akan tetapi, Stoker memang bisa dikatakan adalah film Mia. She is the main key. Chemistry seksual antara India dan Uncle Charlie bisa dibilang sangat elektrik! Luar biasa! Salah satu adegan terbaik dalam film ini terjadi ketika mereka berdua duduk dan bermain piano bersama memainkan alunan musik dari Philip Glass. Believe me, it's 'piano-sex' everyone! Musik yang mengalir di antara mereka bagaikan koneksi penetratif. Wow. Film ini juga menyertakan sebuah scene yang menurut saya one of the best masturbation scene on film. Absurb memang, tapi entahlah menurut saya scene tersebut dieksekusi dengan sangat intens. In a sick way. lol.

Scene akhir film juga menurut saya sangat berseni. Park Chan Wook dan sinematografernya, Chung Chung Hoon, mengambil gambar kiasan dengan sangat detail dan membuat saya menikmati sampai akhir. Dari segi cerita sendiri sebetulnya masih banyak hal janggal yang jadi pertanyaan di benak saya, namun entah kenapa seperti ada sesuatu yang istimewa dari Stoker. Sesuatu yang menempel dalam ingatan saya. Mulai dari gambar-gambar yang disajikan, akting dan ekspresi para pemainnya yang brilian, musik pengiring yang intens, sampai kesadisan yang sebetulnya tidak terlalu sadis secara visual namun mampu membuat saya merinding dalam beberapa scene. Thanks to esensi detail dari sang sutradara, film ini menjadi sebuah karya yang sayang untuk dilewatkan bagi para penikmat film. Jelas ini tidak dapat dinikmati oleh semua orang, tapi tidak ada salahnya menikmati sebuah karya seni yang indah sesekali. :)





Friday, March 30, 2012

REVIEW: SAFE HOUSE


































"Remember rule number one: you are responsible for your house guest. I'm your house guest."

Denzel Washington dan Ryan Reynolds dalam satu frame? Sudah pasti saya tonton! Safe House menurut saya adalah sebuah film yang sangat entertaining. Meskipun mungkin dalam segi plot cerita masih ada miss disana-sini, namun tetap saja saya terhibur dengan apa yang saya tonton. Cast dalam film ini terasa sangat pas sekali, keduanya Denzel dan Ryan menyuguhkan performa akting yang meyakinkan. Pacuan adrenalin non-stop dalam Safe House berhasil membuat saya ikut tegang. Memang kalau mau jujur memang sudah tertebak juga kira-kira film ini akan berakhir seperti apa, tapi 'perjalanan' menuju ending disajikan dengan baik sehingga saya pun tidak merasa bosan.

Ryan Reynolds berperan sebagai Matt Weston, seorang agen CIA muda yang bekerja di sebuah rumah aman rahasia milik CIA di Cape Town, Afrika Selatan. Pekerjaan tersebut sangatlah membosankan karena jarang sekali ada 'tamu' yang berkunjung kesana. Weston menghabiskan sebagian besar waktunya untuk memeriksa dan mengecek kembali perlengkapan lokasi tersebut (makanan, air, kamera, suplai darah, dll), atau yang paling sering...memantulkan bola karet ke dinding. Ia sangat berharap kalau bosnya, David Barlow (Brendan Gleeson), mau mengabulkan permintaannya untuk pindah area ke Paris atau dimanapun selain di Afrika. Paris akan sempurna karena pacarnya berasal dari sana.

Malam Weston yang membosankan tiba-tiba berubah drastis karena kehadiran seorang penjahat kelas kakap, Tobin Frost (Denzel Washington) yang tertangkap di Cape Town dan akhirnya dibawa ke rumah rahasia tersebut untuk di interogasi. Pada saat interogasi tersebut berlangsung, tiba-tiba tempat itu diserang oleh gerombolan pria bersenjata. Ternyata bukan hanya CIA saja yang mengejar Frost. Situasi menegangkan tersebut menjebak Weston untuk berada pada pilihan sulit, kabur dan menjaga Frost tetapi mengancam keamanan dirinya sendiri atau kabur dan tetap hidup.

Action scenes yang disajikan dalam Safe House sangat menarik dan menghibur, mulai dari tembak menembak sampai kejar-kejaran mobil di jalanan yang menegangkan. Poin paling penting adalah akting Ryan Reynolds yang luar biasa bagus dalam film ini. He is a really great actor! Jadi ingat waktu dia di Buried (2010). Hehe.. Lalu film ini juga didukung dengan akting matang dari Denzel Washington. Pas sekali! Safe House menurut saya termasuk sebuah film yang patut untuk ditonton, meskipun tidak terlalu spesial sekali tapi tetap saja anda tidak akan rugi menyaksikan film aksi ini. Go check it out! :)





REVIEW: THE WOMAN IN BLACK


























"Don't go chasing shadows."

Daniel Radcliffe berperan sebagai orang dewasa dalam sebuah film horror? Menarik. Well, at least dia bukan Harry Potter disini. Berawal dari rasa penasaran melihat transformasi Radcliffe tersebut akhirnya saya pun menonton The Woman in Black sewaktu pulang kantor, sendirian pula. Saya pribadi bukanlah pecinta genre horror, namun tetap saja sesekali penasaran juga biarpun nantinya bakal banyak reaksi 'tutup muka pake tangan dan ngintip dari sela-sela jari'. Entah kenapa film yang kata orang-orang lumayan bagus ini menurut saya malah tidak seram sama sekali, hanya kaget-kagetan sepanjang film, itu pun bisa dibilang biasa-biasa saja. Saya masih ingat film horror terakhir yang menurut saya bagus adalah Insidious (2010). Sebetulnya kedua film ini sama-sama mengangkat tema oldschool-horror, akan tetapi The Woman in Black terasa gampang ditebak, membosankan, dan klise.

Seorang pengacara muda, Arthur Kipps (Daniel Radcliffe) yang sedang berjuang untuk hidup dan anak lelakinya sejak kematian istri tercintanya. Ia pun mendapat tugas untuk pergi ke sebuah daerah terpencil untuk melihat sebuah villa besar yang sudah lama tidak ditinggali. Anehnya, masyarakat di daerah tersebut sepertinya tidak bersahabat dan menyuruh Arthur untuk pergi saja dari sana. Arthur yang penasaran malah masuk kedalam rumah tersebut dan akhirnya ia menemukan kejanggalan demi kejanggalan didalamnya. Kejadian-kejadian seram pun terjadi terus menerus di daerah itu sejak kedatangan Arthur, terlebih setelah Arthur melihat sosok seorang wanita berbaju hitam disana. Sudah terlanjur basah, Arthur dan dibantu oleh salah satu orang paling kaya di daerah itu, Daily (Ciaran Hinds), akhirnya memutuskan untuk menguak misteri menyeramkan yang terjadi disana.

Sepanjang film rasanya saya hanya disuguhkan wajah ketakutan Daniel Radcliffe saja. Luar biasa membosankan sekali. Sudah tau villa itu berhantu tetap saja dia masuk, sudah dipesan jangan mengejar bayangan tetap saja dia 'kepo'. Klise! Tapi memang ada beberapa bagian yang berhasil bikin kaget penonton. Tapi apa enaknya kalau cuma kaget-kaget gak penting sepanjang film, iya khan!? Semua ekspresi yang ada dalam film ini sepertinya sangat dibuat-buat supaya 'horror', penonton seperti 'dipaksa' untuk takut. Usaha terus menerus untuk membuat penonton takut datang bertubi-tubi mulai dari sound yang mendadak besar, efek suara, gambar yang gelap, dll. Padahal tidak ada ngeri-ngerinya sama sekali! Satu-satunya yang positif dari film ini menurut saya hanya sinematografinya yang ber-setting Inggris tahun 40-an, dimana segala sesuatunya masih vintage dan terasa 'creepy'. Overall, don't like this movie, the ending just make the movie even worse. Avoid.





REVIEW: MAN ON A LEDGE


































"Today is the day when everything changes."

Man on a Ledge bisa dibilang mengangkat tema yang tidak terlalu orisinil. Seorang pria yang berdiri diujung gedung tinggi, mengancam akan melompat dan bunuh diri guna berusaha mengungkap kebenaran. Mungkin semua juga bisa menebak akhir dari film ini. Sebetulnya plot cerita seperti ini memang selalu berhasil memacu adrenalin penonton untuk ikut seru melihat sang pemeran utama mempertaruhkan nyawa sambil menunggu detik-detik kebenaran terungkap. Contoh, Phone Booth (2002) yang juga mengangkat tema cerita yang kurang lebih hampir sama. Stu Shepard (Collin Farrell) yang tidak bisa meninggalkan kotak telepon umum karena ancaman-ancaman yang diterimanya dan ia harus memutar otak untuk terbebas dari situasi tersebut. Phone Booth merupakan sebuah film dengan tema sederhana namun didukung dengan script yang luar biasa dan akting para pemainnya yang total. Lain halnya dengan Man on a Ledge yang menurut saya sangat miscast dan kurang sekali dari segi script. Scene-scene yang harusnya menegangkan pun terasa biasa-biasa saja. Sampai akhir film sepertinya klimaks yang harusnya ada pun terasa sangat kurang.

Nick Cassidy (Sam Worthington) adalah seorang mantan polisi berstatus narapidana yang sedang menjalankan sebuah misi. Misi tersebut mengharuskannya untuk berada di garis pinggir Hotel Roosevelt di Manhattan. Dengan melakukan misi ini ia berharap dapat membuktikan kalau tuduhan yang diberikan kepadanya itu tidak benar, ia ingin membuktikan kepada dunia kalau dirinya tidak bersalah. Semua ini berhubungan dengan David Englanger (Ed Harris), seorang pebisnis yang sukses. Ia menuduh Nick mencuri sebongkah berlian miliknya. Nick yang tidak terima dirinya dipenjara atas kesalahan yang tidak pernah dibuatnya pun akhirnya merancang sebuah misi dimana ia dipaksa untuk berada di situasi mengancam. Dibantu adiknya, Joey Cassidy (Jamie Bell) dan pacar sang adik, Angie (Genesis Rodriguez), akhirnya misi tersebut pun dijalankan. Seorang polisi bernama Lydia Mercer (Elizabeth Banks) yang percaya dengan instingnya bahwa Nick tidak bersalah juga membantu mengeluarkan Nick dari situasi tegang itu.

Titik lemah dari film ini adalah ceritanya. Plot cerita yang lemah itu sayangnya tidak dibantu dengan akting yang baik dari para pemainnya. Bahkan, seperti yang sudah saya sebut diatas, miscast. Entah kenapa hampir semua karakter yang diperankan oleh aktor dan aktris yang terpilih dalam film ini terasa kurang pas. Sam Worthington menurut saya pribadi sangat tidak cocok memerankan karakter Nick Cassidy. Elizabeth Banks apalagi, lumayan mengganggu juga melihat aktingnya sebagai karakter Lydia Mercer, tidak meyakinkan. Belum lagi Genesis Rodriguez yang sepanjang film terasa over-acting sekali. Akan tetapi mungkin para pria tentu saja akan terhibur dengan kehadiran Rodriguez yang latina cantik itu. Overall, Man on a Ledge bukanlah sebuah film yang sangat buruk, akan tetapi saya bisa memastikan kalau film ini tidak akan memorable. Maklum, mungkin juga karena ini merupakan film perdana dari sutradara Asger Leth. Saya pribadi ketika menonton film ini rasanya geregetan sekali, ingin rasanya mendorong Nick untuk buru-buru lompat saja kebawah gedung, the end. Haha..





Thursday, August 18, 2011

REVIEW: FAST FIVE




































"You only live once, lets do this!"

Perlu diakui kalau franchise film ini memang selalu menarik untuk dijadikan tontonan hiburan. Para lelaki terhibur dengan mobil-mobil keren dan para wanita cantik nan sexy yang selalu hadir disini. Lalu wanita juga tentunya terhibur dengan para pria macho yang hobi ngebut. Belum lagi ditambah soundtrack yang selalu bersemangat dan asik untuk didengar. Saya pribadi paling suka dengan film pertama yakni The Fast and The Furious (2001). Waktu itu yang ada dalam benak saya, 'Filmnya keren banget!'. Selanjutnya 2 Fast 2 Furious, ohh well..tidak ada Vin Diesel dalam jajaran cast, tentu saja penonton kecewa, filmnya sendiri pun menurut saya memang mengecewakan. Berlanjut lagi dengan The Fast and the Furious: Tokyo Drift (2006) yang memangkas semua para pemain lama, digantikan dengan pemain baru. Kali ini menurut saya lumayan saja, namun kehadiran sosok Han yang diperankan oleh aktor Korea; Sung Kang, cukup mencuri perhatian. Terakhir Fast & Furious (2009) boleh ditonton, jauh lebih baik dari pada yang sudah-sudah. Namun, siapa sangka kalau Fast Five kali ini merupakan yang terbaik dari semua yang ada, at least ini menurut pendapat saya.

Fast Five bercerita tentang Brian O'Connor (Paul Walker) dan pacarnya yang juga adik Dom, Mia (Jordana Brewster) sedang berada di Rio de Janiero, Brazil, untuk bertemu dengan teman lama mereka, Vince (Matt Schulze). Disana juga akhirnya mereka bertemu lagi dengan Dominic Toretto (Vin Diesel) yang baru melarikan diri dan berstatus buronan. Mereka bertiga akhirnya setuju dengan tugas baru yang diberikan oleh Vince, yakni membantu mafia no.1 di Brazil, Hernan Reyes (Joaquim de Almeida). Namun ada sesuatu yang janggal dalam misi itu, sampai akhirnya Dom memutuskan untuk melakukan misi 'bunuh diri' yang apabila berhasil dapat merubah hidup mereka semua. Untuk merealisasikan misi ini mereka tidak bisa hanya bertiga saja, mereka lalu mengumpulkan teman-teman lama untuk membantu dan nantinya hasil yang didapatkan akan dibagi rata. Tentu saja jumlah yang mereka incar sangat amat besar, namun itu juga dibarengi dengan konsekuensi yang luar biasa besar pula. Apalagi Dom dan kawan-kawan sedang dicari FBI yang mengutus orang terbaik mereka, Luke Hobbs (Dwayne Johnson).

Apa sebenarnya alasan saya berani mengatakan kalau Fast Five adalah film terbaik dari keseluruhan franchise ini? Senang sekali rasanya melihat para pemain yang berkesan muncul dan reuni bersama dalam film ini. Jalan cerita yang ditawarkan kali ini memang bisa dibilang tidak istimewa, namun selipan humor yang ada sangat menghibur! Kehadiran 'The Rock' dalam film ini juga membuat keseluruhan isi film semakin meriah. Fast Five hadir pure sebagai entertainment movie, tidak perlu berfikir pada saat menonton, nikmati saja aliran adegan aksi yang ada. Banyak dialog yang membuat penonton tertawa, ini juga semakin menambah nilai plus. Mungkin ada beberapa orang, terutama para pria pecinta otomotif yang kecewa karena dalam Fast Five kali ini tidak menyajikan mobil-mobil super keren seperti sebelumnya. Namun bagi orang yang memang tidak terlalu mempermasalah itu, Fast Five benar-benar sebuah tontonan yang memuaskan apalagi jika disaksikan dalam layar lebar. Jadi tidak sabar menunggu sekuel selanjutnya, kabarnya Eva Mendes akan kembali bergabung, begitu juga dengan karakter Letty yang diperankan oleh Michelle Rodriguez yang sepertinya akan diceritakan ternyata belum atau tidak jadi mati. Well, we'll see..